Sabtu, 10 Maret 2012

TINEA KAPITIS

Definisi
    Tinea kapitis adalah kelainan pada kulit dan rambut kepala yang disebabkan oleh spesies dermatofita. Kelainan ini dapat ditandai dengan lesi bersisik, kemerah – merahan, alopesia, dan kadang – kadang terjadi gambaran klinis yang lebih berat yang disebut kerion. (Djuanda Adhi, 2010)
    Umumnya menyebabkan alopesia baik bentuk meradang maupun tidak meradang. Infeksi lebih sering pada anak berusia di atas 6 (enam) bulan, walaupun infeksi dapat juga terjadi pada semua umur. Di bandung pernah dilaporkan satu kasus terjadi pada anak berusia3 (tiga) minggu.(Budimulja, 2001 )

Etiologi
    Penyebab tinea capitis berbeda – beda berdasarkan letak geografis. Tinea kapitis disebabkan spesies Trichophyton Sp. dan Microsporum Sp.. Di Amerika Serikat penyebab terbanyak ialah  Trichophyton tonsuran dan Microsporum canis. Di Eropa, Amerika Selatan, Australia, Asia, dan Afrika Utara, tinea kapitis umumnya disebabkan M.canis, T.violaceum penyebab tinea kapitis terbanyak di- India , sebagian Eropa dan Afrika, sedangkan M.ferrugineum adalah penyebab terbanyak di Jepang, Cina, Korea, dan Afrika Selatan. Di Medan tinea kapitis terbanyak disebabkan T. Rubrum dan T.- Mentagrophytes. (Budimuljia,2004)

Gambaran klinis

    Tinea kapitis mempunyai gejala klinis bervariasi mulai dari karier asimptomatik, alopesia tanpa peradangan, alopesia dengan blackdot, kerion dengan peradangan dan alopesia yang mirip furunkulosis bakterial, serta gambaran seperti dermatitis seboroik.(Budimulja, 2001)
Ada beberapa bentuk dan gambaran klinis tinea kapitis yaitu :

1.    Grey patch ringworm
Bentuk ini biasanya disebabkan oleh genus microsporum yaitu spesies M. Audoinii atau M. Ferrugenium dan sering ditemukan pada anak – anak. Penyakit mulai dengan papul merah yang kecil di sekitar rambut. Papul ini melebar dan membentuk bercak, yang menjadi pucat dan bersisik. Keluhan penderita adalah merasa gatal. Warna rambut menjadi abu – abu dan tidak berkilat lagi. Rambut mudah patah dan terlepas dari akarnya sehingga mudah dicabut dengan pinset tanpa rasa nyeri. Semua rambut di daerah tersebut terserang oleh jamur, sehingga dapat terbentuk alopesia setempat. Tempat – tempat ini terlihat sebagai grey patch. Grey patch yang dilihat dalam klinik tidak menunjukkan batas – batas daerah sakit dengan pasti. Pada pemeriksaan lampu wood dapat di lihat fluoresensi hijau kekuning – kuningan pada rambut yang sakit melampaui batas – batas grey patch tersebut.

2.    Kerion
Kerion adalah reaksi peradangan yang berat pada tinea kapitis, berupa pembengkakan yang menyerupai sarang lebah dengan sebukan sel radang yang padat di sekitarnya. Bila penyebabnya Microsporum canis dan Microsporun gypseum, pembentukan kerion ini lebih sering dilihat, agak kurang bila penyebabnya Trichophyton tonsurans, dan sedikit sekali bila penyababnya adalah Trichophyton violaceum. Kelainan ini dapat menimbulkan jaringan parut dan berakibat alopesia yang menetap. Jaringan parut yang menonjol kadang – kadang dapat terbentuk.

3.    Black dot ringworm
Black dot ringworm terutama disebabkan oleh trichophyton tonsurans dan Trichophyton violaceum. Pada permulaan penyakit, gambaran klinisnya menyerupai kelainan yang disebabkan genus Microsporum.  Rambut yang terkena infeksi patah, tepat pada muara folikel, dan yang tertinggal adalah ujung rambut yang penuh spora. Ujung rambut yang hitam didalam folikel ini memberi gambaran khas, yaitu black dot. Ujung rambut yang patah, kalau tumbuh kadang – kadang masuk kebawah permukaan kulit. Dalam hal ini perlu irisan kulit untuk medapatkan bahan biakan jamur. Tinea kapitis juga akan menunjukkan peradangan yang lebih berat, bila disebabkan oleh Trichophyton mentagrophytes dan Trichophyton verrucosum, yang keduanya bersifat zoofilik. Trichophyton rubrum sangat jarang menyebabkan tinea kapitis. (Djuanda Adhi,2010)



4.    Favus
Bentuk ini merupakan bentuk yang berat dan kronik yang disebabkan oleh T. Schoeleiinii. Bentuk ini ditandai dengan pembentukan skutula, yaitu krusta yang berbentuk mangkuk berwarna merah kuning dan berkembang menjadi berwarna kuning kecoklatan. Pada pengangkatan krusta terlihat dasar yang cekung, merah, basah dan berbau seperti tikus. Bila tidak diobati gejala ini akan meluas ke seluruh kepala dan meninggalkan parut dan botak. Tinea favosa (favus) pada kulit dapat dilihat sebagai kelainan kulit papulovesikel dan papuloskuamosa, disertai kelainan kulit berbentuk cawan yang khas yang kemudian menjadi jaringan parut. (Budimulja,2001) 

Diagnosis
A.    Pemeriksaan mikroskop langsung dari rambut, terutama rambut yang rontok , dengan kalium hidroksida (KOH) 10%
•    Cari hifa atau spora di sekeliling atau di dalam batang rambut yang terkena
•    Bila ditemukan respon peradangan yang hebat, pemeriksaan KOH dapat memberikan hasil negatif\
B.    Pemeriksaan lampu wood Fluoresens hijau terang pada batang rambut menunjukkan bahwa infeksi disebabkan oleh Microsporum canis dan Microsporum audounii. Namun infeksi Microsporum jauh lebih jarang di amerika serikat, sedangkan Trichophyton tonsurans menyebabkan hampir 80% tinea kapitis. Oleh karena itu, pada kebanyakan kasus tinea kapitis pemeriksaan lampu wood tidak membantu.(Goldstein,2001)

Patogenesis
    Menurut elewski (1996) jamur penyebab tinea kapitis secara invivo hidup pada keratin yang terbentuk lengkap pada bagian rambut yang sudah mati. Jamur menyebabkan keratolisis karena adanya enzim keratinase, walaupun banyak juga jamur penghasil keratinase yang tidak menyebabkan tinea kapitis (Epidermophyton floccosum, T.concentricum dll). Penjelasan mengenai keratolisis masih belum diketahui, sehingga pembuktian keratolisis hanya berdasarkan pengurangan keratin secara tidak langsung.  Rockman  (1990) mengemukakan bahwa insiden tinea kapitis pada anak prapubertas terjadi karena menurunnya asam lemak dalam sebum. Infeksi dimulai dengam invasi dermatofita melalui perifolikuler stratum korneum, hifa tumbuh kedalam folikel dan berkembang membentuk rangkaian spora dan berhenti tiba – tiba pada pertemuan antar sel yang berinti dan yang mempunyai keratin tebal.(Budimulja,2004)

Penatalaksanaan
    Pengobatan pada anak atau penderita biasanya diberikan per oral dengan griseofulvin 10 – 25 mg/kg berat badan perhari selama 6 minggu. Penggunaan antijamur topikal dapat mengurangi penularan pada orang yang ada di sekitarnya. (Harahap,2000)
Pengobatan oral adalah yang paling efektif, walaupun pada saat ini cukup banyak obat topikal dari derivat imidazol yang mempunya efek fungistatik :
•    Griseofulvin
Masih merupakan obat pilihan karena keamananya dapati ditoleransi baik oleh anak. Bila digunakan bentuk ultramicrosize diberikan dengan dosis tunggal 10 – 15 mg/kgBB, sedangkan microsize 15 – 25 mg/kgBB. Griseofulvin diberikan bersama makanan yang mengandung lemak. Lama pengobatan bergantung pada keadaan klinis dan mikologik, minimal 6 – 8 minggu sampai 3-4 bulan.
Tidak diberikan pada pasien dengan kehamilan, karena dilaporkan dapat menyebabkan kembar siam.
•    Ketokonazol
Terutama efektif pada tinea kapitis yang disebabkan spesies Trichophyton. Kurang efektif bila disebabkan oleh M.canis . Dosisyang diberikan ialah 3,3 – 6,6 mg/kgBB selama 3 – 6 minggu, diminum bersama soda atau sari jeruk. Ketokonazol bersifat hepatotoksik, sehingga bukan merupakan obat pilihan untuk tinea kapitis.

•    Itrakonazol
Sangat efektif untuk tinea kapitis baik spesies Microsporum maupun Trichophyton, dengan dosis 100 mg/ hari selama 5 minggu (3 – 5 mg/kgBB). Tetapi karena tidak tersedia dalam bentuk sirup dan hanya tersedia dalam bentuk tablet 100 mg yang tidak dapat dibagi, maka sulit ditentukan dosis yang tepat. Efek samping itrakonazol adalah perubahan fungsi hati yang tidak menetap, hipokalemia (bila dosis tinggi), nausea, nyeri abdominal, rash, sakit kepala, pusing, mengantuk, dan gatal.
•    Flukonazol
Efektif untuk tinea kapitis, dan tersedia dalam bentuk sirup yang cocok untuk anak – anak. Pemberian tidak bergantung makanan,tidak ada efek gastrointestinal, keamanannya tinggi dan di toleransi dengan baik.
•    Terbinafin
Diberikan dengan dosis 62,5 – 250 mg/kgBB/hari selama 6 minggu, umumnya cukup dengan dosis 3 – 6 mg/kgBB/hari sleama 4 minggu. Obat ini berbentuk tablet 250mg agar lebih mudah di bagi. Efeksamping seperti perubahan enzim hati adalah rendah tetapi efeklain seperti gastrointestinal, pusing, urtikaria, reaksi morbili, sakit kepala, hilangnya rasa mengecap sementara dan pansitopenia masih dijumpai.(Budimulja,2001)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar