Rabu, 14 Maret 2012

anak indigo

Tahu anak Indigo? Pernah mendengar istilah Indigo? Indigo adalah warna nila, biru gelap. Anak indigo adalah anak yang memiliki lapangan aura berwarna nila. Cara berpikirnya yang khas, pembawaannya yang tua, membuat anak indigo tampil beda dengan anak sebayanya. Pacaran aura yang dimilikinya membawa kepada suatu karakteristik perilaku unik. Secara fisik anak indigo sama sekali tak berbeda dengan anak lainnya.
Lewat bukunya Understanding Your Life Through Color, Nancy Tappe (1982) membuat klasifikasi manusia berdasarkan warna energi atau cakra. Cakra adalah pintu-pintu khusus dalam tubuh manusia untuk keluar masuknya energi. Konon pada tubuh manusia ada 7 cakra, yaitu cakra mahkota ada di puncak kepala, cakra Ajna di antara dua alis, cakra tenggorokan di tenggorokan, cakra jantung di tengah dada, cakra pusar ada di pusar, cakra seks ada pada tulang pelvis, dan cakra dasar ada di tulang ekor.
Anak indigo memiliki keunggulan pada cakra Ajna (the third eyes) yang berkaitan dengan kelenjar hormon hipofisis dan epifisis di otak. Adanya mata ketiga ini membuat anak indigo disebut memiliki indra keenam. Mereka dianggap memiliki kemampuan menggambarkan masa lalu dan masa datang.
Satu hal yang penting dan digaris bawahi, yaitu tidak jarang anak indigo salah diidentifikasi. Mereka sering dianggap sebagai anak LD (Learning Sidability) ataupun anak ADD/HD (Attentian Deficit Disorder/Hyperactivity Disorder). Perbedaannya adalah ketidakajegan munculnya perilaku yang dikeluhkan. Misalnya pada anak indigo, mereka menunjukkan keunggulan pemahaman terhadap aturan-aturan sosial dan penalaran abstrak, tapi tak tampak dalam kesehariannya, baik di sekolah maupun di rumah.
Terdapat 4 macam anak indigo:
1.Humanis. 
Tipe ini akan bekerja dengan orang banyak. Kecenderungan karir di masa datang adalah dokter, pengacara, guru, pengusaha, politikus atau pramuniaga. Perilaku menonjol saat ini hiperaktif, sehingga perhatiannya mudah tersebar. Mereka sangat sosial, ramah, dan memiliki pendapat kokoh.
2.Konseptual. 
Lebih enjoy bekerja sendiri dengan proyek-proyek yang ia ciptakan sendiri. Contoh karir adalah sebagai arsitek, perancang, pilot, astronot, prajurit militer. Perilaku menonjol suka mengontrol perilaku orang lain.
3.Artis. 
Tipe ini menyukai pekerjaan seni. Perilaku menonjol adalah sensitif, dan kreatif. Mereka mampu menunjukkan minat sekaligus dalam 5 atau 6 bidang seni, namun beranjak remaja minat terfokus hanya pada satu bidang saja yang dikuasai secara baik.
4.Interdimensional. 
Anak indigo tipe ini di masa datang akan jadi filsuf, pemuka agama. Dalam usia 1 atau 2 tahun, orangtua merasa tidak perlu mengajarkan apapun karena mereka sudah mengetahuinya.
Ciri-ciri anak berbakat yang indigo:
  • Memiliki sensitivitas tinggi.
  • Memiliki energi berlebihan untuk mewujudkan rasa ingin tahunya yang berlebihan
  • Mudah sekali bosan.
  • Menentang otoritas bila tidak berorientasi demokratis.
  • Memiliki gaya belajar tertentu.
  • Mudah frustasi karena banyak ide namun kurang sumber yang dapat membimbingnya.
  • Suka bereksplorasi.
  • Tidak dapat duduk diam kecuali pada objek yang menjadi minatnya.
  • Sangat mudah merasa jatuh kasihan pada orang lain.
  • Mudah menyerah dan terhambat belajar jika di awal kehidupannya mengalami kegagalan.

Apa yang harus dilakukan orangtua:
  • Hargai keunikan anak dan hindari kritikan negatif.
  • Jangan pernah mengecilkan anak.
  • Berikan rasa aman, nyaman dan dukungan.
  • Bantu anak untuk berdisiplin.
  • Berikan mereka kebebasan pilihan tentang apapun.
  • Bebaskan anak memilih bidang kegiatan yang menjadi minatnya, karena pada umumnya mereka tidak ingin jadi pengekor.
  • Menjelaskan sejelas-jelasnya (masuk akal) mengapa suatu instruksi diberikan, karena mereka tidak suka patuh pada hal-hal yang dianggap mengada-ada.
  • Jadikan sebagai mitra dalam membesarkan mereka.
Referensi :inspiredkids 19Share

dikutip dari : http://mamka-blog.blogspot.com/2012/01/ciri-ciri-anak-indigo.html

Sabtu, 10 Maret 2012

TINEA KAPITIS

Definisi
    Tinea kapitis adalah kelainan pada kulit dan rambut kepala yang disebabkan oleh spesies dermatofita. Kelainan ini dapat ditandai dengan lesi bersisik, kemerah – merahan, alopesia, dan kadang – kadang terjadi gambaran klinis yang lebih berat yang disebut kerion. (Djuanda Adhi, 2010)
    Umumnya menyebabkan alopesia baik bentuk meradang maupun tidak meradang. Infeksi lebih sering pada anak berusia di atas 6 (enam) bulan, walaupun infeksi dapat juga terjadi pada semua umur. Di bandung pernah dilaporkan satu kasus terjadi pada anak berusia3 (tiga) minggu.(Budimulja, 2001 )

Etiologi
    Penyebab tinea capitis berbeda – beda berdasarkan letak geografis. Tinea kapitis disebabkan spesies Trichophyton Sp. dan Microsporum Sp.. Di Amerika Serikat penyebab terbanyak ialah  Trichophyton tonsuran dan Microsporum canis. Di Eropa, Amerika Selatan, Australia, Asia, dan Afrika Utara, tinea kapitis umumnya disebabkan M.canis, T.violaceum penyebab tinea kapitis terbanyak di- India , sebagian Eropa dan Afrika, sedangkan M.ferrugineum adalah penyebab terbanyak di Jepang, Cina, Korea, dan Afrika Selatan. Di Medan tinea kapitis terbanyak disebabkan T. Rubrum dan T.- Mentagrophytes. (Budimuljia,2004)

Gambaran klinis

    Tinea kapitis mempunyai gejala klinis bervariasi mulai dari karier asimptomatik, alopesia tanpa peradangan, alopesia dengan blackdot, kerion dengan peradangan dan alopesia yang mirip furunkulosis bakterial, serta gambaran seperti dermatitis seboroik.(Budimulja, 2001)
Ada beberapa bentuk dan gambaran klinis tinea kapitis yaitu :

1.    Grey patch ringworm
Bentuk ini biasanya disebabkan oleh genus microsporum yaitu spesies M. Audoinii atau M. Ferrugenium dan sering ditemukan pada anak – anak. Penyakit mulai dengan papul merah yang kecil di sekitar rambut. Papul ini melebar dan membentuk bercak, yang menjadi pucat dan bersisik. Keluhan penderita adalah merasa gatal. Warna rambut menjadi abu – abu dan tidak berkilat lagi. Rambut mudah patah dan terlepas dari akarnya sehingga mudah dicabut dengan pinset tanpa rasa nyeri. Semua rambut di daerah tersebut terserang oleh jamur, sehingga dapat terbentuk alopesia setempat. Tempat – tempat ini terlihat sebagai grey patch. Grey patch yang dilihat dalam klinik tidak menunjukkan batas – batas daerah sakit dengan pasti. Pada pemeriksaan lampu wood dapat di lihat fluoresensi hijau kekuning – kuningan pada rambut yang sakit melampaui batas – batas grey patch tersebut.

2.    Kerion
Kerion adalah reaksi peradangan yang berat pada tinea kapitis, berupa pembengkakan yang menyerupai sarang lebah dengan sebukan sel radang yang padat di sekitarnya. Bila penyebabnya Microsporum canis dan Microsporun gypseum, pembentukan kerion ini lebih sering dilihat, agak kurang bila penyebabnya Trichophyton tonsurans, dan sedikit sekali bila penyababnya adalah Trichophyton violaceum. Kelainan ini dapat menimbulkan jaringan parut dan berakibat alopesia yang menetap. Jaringan parut yang menonjol kadang – kadang dapat terbentuk.

3.    Black dot ringworm
Black dot ringworm terutama disebabkan oleh trichophyton tonsurans dan Trichophyton violaceum. Pada permulaan penyakit, gambaran klinisnya menyerupai kelainan yang disebabkan genus Microsporum.  Rambut yang terkena infeksi patah, tepat pada muara folikel, dan yang tertinggal adalah ujung rambut yang penuh spora. Ujung rambut yang hitam didalam folikel ini memberi gambaran khas, yaitu black dot. Ujung rambut yang patah, kalau tumbuh kadang – kadang masuk kebawah permukaan kulit. Dalam hal ini perlu irisan kulit untuk medapatkan bahan biakan jamur. Tinea kapitis juga akan menunjukkan peradangan yang lebih berat, bila disebabkan oleh Trichophyton mentagrophytes dan Trichophyton verrucosum, yang keduanya bersifat zoofilik. Trichophyton rubrum sangat jarang menyebabkan tinea kapitis. (Djuanda Adhi,2010)



4.    Favus
Bentuk ini merupakan bentuk yang berat dan kronik yang disebabkan oleh T. Schoeleiinii. Bentuk ini ditandai dengan pembentukan skutula, yaitu krusta yang berbentuk mangkuk berwarna merah kuning dan berkembang menjadi berwarna kuning kecoklatan. Pada pengangkatan krusta terlihat dasar yang cekung, merah, basah dan berbau seperti tikus. Bila tidak diobati gejala ini akan meluas ke seluruh kepala dan meninggalkan parut dan botak. Tinea favosa (favus) pada kulit dapat dilihat sebagai kelainan kulit papulovesikel dan papuloskuamosa, disertai kelainan kulit berbentuk cawan yang khas yang kemudian menjadi jaringan parut. (Budimulja,2001) 

Diagnosis
A.    Pemeriksaan mikroskop langsung dari rambut, terutama rambut yang rontok , dengan kalium hidroksida (KOH) 10%
•    Cari hifa atau spora di sekeliling atau di dalam batang rambut yang terkena
•    Bila ditemukan respon peradangan yang hebat, pemeriksaan KOH dapat memberikan hasil negatif\
B.    Pemeriksaan lampu wood Fluoresens hijau terang pada batang rambut menunjukkan bahwa infeksi disebabkan oleh Microsporum canis dan Microsporum audounii. Namun infeksi Microsporum jauh lebih jarang di amerika serikat, sedangkan Trichophyton tonsurans menyebabkan hampir 80% tinea kapitis. Oleh karena itu, pada kebanyakan kasus tinea kapitis pemeriksaan lampu wood tidak membantu.(Goldstein,2001)

Patogenesis
    Menurut elewski (1996) jamur penyebab tinea kapitis secara invivo hidup pada keratin yang terbentuk lengkap pada bagian rambut yang sudah mati. Jamur menyebabkan keratolisis karena adanya enzim keratinase, walaupun banyak juga jamur penghasil keratinase yang tidak menyebabkan tinea kapitis (Epidermophyton floccosum, T.concentricum dll). Penjelasan mengenai keratolisis masih belum diketahui, sehingga pembuktian keratolisis hanya berdasarkan pengurangan keratin secara tidak langsung.  Rockman  (1990) mengemukakan bahwa insiden tinea kapitis pada anak prapubertas terjadi karena menurunnya asam lemak dalam sebum. Infeksi dimulai dengam invasi dermatofita melalui perifolikuler stratum korneum, hifa tumbuh kedalam folikel dan berkembang membentuk rangkaian spora dan berhenti tiba – tiba pada pertemuan antar sel yang berinti dan yang mempunyai keratin tebal.(Budimulja,2004)

Penatalaksanaan
    Pengobatan pada anak atau penderita biasanya diberikan per oral dengan griseofulvin 10 – 25 mg/kg berat badan perhari selama 6 minggu. Penggunaan antijamur topikal dapat mengurangi penularan pada orang yang ada di sekitarnya. (Harahap,2000)
Pengobatan oral adalah yang paling efektif, walaupun pada saat ini cukup banyak obat topikal dari derivat imidazol yang mempunya efek fungistatik :
•    Griseofulvin
Masih merupakan obat pilihan karena keamananya dapati ditoleransi baik oleh anak. Bila digunakan bentuk ultramicrosize diberikan dengan dosis tunggal 10 – 15 mg/kgBB, sedangkan microsize 15 – 25 mg/kgBB. Griseofulvin diberikan bersama makanan yang mengandung lemak. Lama pengobatan bergantung pada keadaan klinis dan mikologik, minimal 6 – 8 minggu sampai 3-4 bulan.
Tidak diberikan pada pasien dengan kehamilan, karena dilaporkan dapat menyebabkan kembar siam.
•    Ketokonazol
Terutama efektif pada tinea kapitis yang disebabkan spesies Trichophyton. Kurang efektif bila disebabkan oleh M.canis . Dosisyang diberikan ialah 3,3 – 6,6 mg/kgBB selama 3 – 6 minggu, diminum bersama soda atau sari jeruk. Ketokonazol bersifat hepatotoksik, sehingga bukan merupakan obat pilihan untuk tinea kapitis.

•    Itrakonazol
Sangat efektif untuk tinea kapitis baik spesies Microsporum maupun Trichophyton, dengan dosis 100 mg/ hari selama 5 minggu (3 – 5 mg/kgBB). Tetapi karena tidak tersedia dalam bentuk sirup dan hanya tersedia dalam bentuk tablet 100 mg yang tidak dapat dibagi, maka sulit ditentukan dosis yang tepat. Efek samping itrakonazol adalah perubahan fungsi hati yang tidak menetap, hipokalemia (bila dosis tinggi), nausea, nyeri abdominal, rash, sakit kepala, pusing, mengantuk, dan gatal.
•    Flukonazol
Efektif untuk tinea kapitis, dan tersedia dalam bentuk sirup yang cocok untuk anak – anak. Pemberian tidak bergantung makanan,tidak ada efek gastrointestinal, keamanannya tinggi dan di toleransi dengan baik.
•    Terbinafin
Diberikan dengan dosis 62,5 – 250 mg/kgBB/hari selama 6 minggu, umumnya cukup dengan dosis 3 – 6 mg/kgBB/hari sleama 4 minggu. Obat ini berbentuk tablet 250mg agar lebih mudah di bagi. Efeksamping seperti perubahan enzim hati adalah rendah tetapi efeklain seperti gastrointestinal, pusing, urtikaria, reaksi morbili, sakit kepala, hilangnya rasa mengecap sementara dan pansitopenia masih dijumpai.(Budimulja,2001)

Kamis, 12 Januari 2012

D I A R E

Diare (mencret) adalah buang air besar cair >3x sehari dengan konsistensi tinja cair. Definisi ini tidak berlaku untuk bayi yang diberi ASI. Bagi bayi dengan konsumsi ASI, buang air besar sampai 5-6 kali masih dalam batas normal. Gastroenteritis adalah peradangan pada lambung  dan usus. Diare bisa merupakan bagian dari gejala gastroenteritis.
Gejala umum:
    • Demam ringan
    • Mual, bisa disertai muntah
    • Diare ringan sampai sedang
    • Kram perut

  • Gejala yang lebih serius:
    • Ada darah di muntahan atau di tinja
    • Muntah lebih dari 48 jam
    • Demam
    • Nyeri perut
    • Dehidrasi

Berdasarkan jenisnya diare dibedakan menjadi diare akut cair (acute watery diarrhea) atau  diare berlendir darah (dysenteriform diarrhea).
Berdasarkan perjalanannya, diare dibagi menjadi diare akut, kronis, dan persisten (tanpa infeksi)
Diare akut adalah diare yang gejalanya tiba-tiba dan berlangsung 14 hari. Diare dapat disebabkan infeksi maupun non infeksi. Dari penyebab diare yang terbanyak adalah diare infeksi. Diare infeksi dapat disebabkan virus, bakteri, dan parasit.
Diare akut merupakan masalah yang umum ditemukan diseluruh dunia. Beberapa rumah sakit di Indonesia menunjukkan data bahwa diare akut karena infeksi menempati peringkat pertama sampai dengan ke empat pasien dewasa yang datang berobat ke rumah sakit.

PENYEBAB DIARE dan GASTROENTERITIS
1.Infeksi berbagai macam bakteri yang disebabkan oleh kontaminasi makanan maupun air minum;
2.Infeksi berbagai macam virus; Penyebab diare terbanyak pada balita adalah diare karena virus, yaitu Rotavirus.
3.Alergi makanan, khususnya susu atau laktosa (makanan yang mengandung susu);
4.Parasit yang masuk ke tubuh melalui makanan atau minuman yang kotor.
Penyebab utama disentri di Indonesia adalah Shigella, Salmonela, Campylobacter jejuni, Escherichia coli, dan Entamoeba histolytica. Disentri berat umumnya disebabkan oleh Shigella dysentery, kadang-kadang dapat juga disebabkan oleh Shigella flexneri, Salmonella dan Enteroinvasive E.coli ( EIEC).


PROSES PENYAKIT DIARE DAN GASTROENTERITIS
Bakteri, virus, parasit masuk melalui saluran pencernaan. Setelah melalui barier asam lambung, kuman yang lolos akan berkembang biak di lumen usus.Hal tersebut akan mengganggu kerja usus: fungsi penyerapan usus akan terganggu, produksi cairan usus akan meningkat, dan gerakan usus juga meningkat. Gangguan kerja usus ini yang akan menyebabkan diare. Sedangkan racun yang dihasilkan oleh kuman, akan menimbulkan gejala demam, mual, dan muntah.



PENCEGAHAN DIARE DAN GASTROENTERITIS
Diare mudah dicegah antara lain dengan cara:
1.Mencuci tangan pakai sabun dengan benar pada lima waktu penting: 1) sebelum makan, 2) setelah BAB dan BAK, 3) sebelum memegang bayi, 4) setelah menceboki anak dan 5) sebelum menyiapkan makanan;
2.Meminum air minum sehat, atau air yang telah diolah, antara lain dengan cara merebus, pemanasan dengan sinar matahari atau proses klorinasi: dan selalu memasak makanan.
3.Pengelolaan sampah yang baik supaya makanan tidak tercemar serangga (lalat, kecoa, kutu, lipas, dan lain-lain);
4.Membuang air besar dan air kecil pada tempatnya, sebaiknya menggunakan jamban dengan tangki septik.


PENYEMBUHAN DIARE dan GASTROENTERITIS
1.Minum dan makan secara normal untuk menggantikan cairan tubuh yang hilang;pasien diare tidak boleh dipuasakan, makanan diberikan sedikit-sedikit tetapi sering, prinsipnya: berikan makanan yang mudah dicerna yang tidak membebani usus dan mengiritasi usus, seperti: rendah serat, banyak kuah, hindari santan dan hindari bumbu-bumbu menyengat, berikan buah-buahan terutama pisang dan apel, karena kedua buah tersebut mengandung kaolin, pektin, dan kalium yang dapat mengurangi diare.
2.Untuk bayi dan balita, teruskan minum ASI (Air Susu Ibu);
3.Cairan Rumah Tangga (CRO) dan oralit. Oralit merupakan salah satu cairan pilihan untuk mencegah dan mengatasi dehidrasi. Cairan yang biasa disebut sebagai cairan rumah tangga ini harus segera diberikan pada saat mulai diare. Jika terjadi muntah, pemberian cairan dapat dihentikan selama kurang lebih 10 menit, selanjutnya cairan diberikan perlahan-lahan (misalnya 1 sendok setiap 2-3 menit).Oralit sudah dilengkapi dengan elektrolit, sehingga dapat mengganti elektrolit yang ikut hilang bersama cairan. Oralit dapat mengurangi BAB sebesar 20% dan mengurangi muntah 30%, dan dapat mengurangi kebutuhan cairan infus sebesar 33%. Cairan rumah tangga bisa meliputi air mineral, kuah sup, air teh encer, jus buah segar, sebaliknya, larutan-larutan yang kandungan gulanya tinggi tidak boleh diberikan, contohnya adalah teh yang sangat manis, soft drink dan minuman buah komersial yang manis.
4.Suplementasi seng (zinc), dapat mempercepat penyembuhan serta mengurangi angka kekambuhan diare. Seng membantu pemulihan vili-vili usus yang rusak akibat diare.
5.Antimikroba yang sesuai dengan diagnosis diare. Diare karena infeksi virus, tidak rasional bila diberikan antimikroba, cukup dengan pengobatan penunjang saja.
6.Bila diare sangat frekuen dapat diberikan obat-obat yang berfungsi untuk mengurangi pergerakan usus, tetapi dengan pengawasan dokter.
7.Bisa diberikan juga obat-obat yang bersifat absorben, seperti arang aktif, dan kaolin pectin, yang dijual bebas.

Yang penting diperhatikan pada diare dan gastroenteritis:

Ada/tidaknya tanda-tanda dehidrasi/ kekurangan cairan.

Mengetahui tanda-tanda dehidrasi adalah sangat penting karena kematian pasien diare adalah karena dehidrasi.
Klasifikasi
Tanda dan Gejala
Tak ada dehidrasi
Tak ada tanda dan gejala dehidrasi:
  • Keadaan umum baik, sadar
  • Tanda vital (tekanan darah, suhu,nadi, pernapasan)  dalam batas normal
Dehidrasi tak berat
Dua atau lebih tanda-tanda berikut:
  • Gelisah/rewel
  • Mata cekung
  • Air mata kurang
  • Haus (minum banyak)
  • Mulut dan bibir sedikit kering
  • Cubitan kulit perut kembali lambat
  • Tangan dan kaki hangat
Dehidrasi berat
Dua atau lebih tanda-tanda berikut:
  • Kondisi umum lemas
  • Kesadaran menurun-tidak sadar
  • Mata cekung
  • Air mata tidak ada
  • Tidak mampu untuk minum/ minum lemah
  • Mulut dan bibir kering
  • Cubitan kulit perut kembali sangat lambat (≥ 2 detik)
  • Tangan dan kaki dingin.

Sarankan kepada pasien/keluarga pasien kapan harus kembali berobat:
  • BAB menjadi lebih sering
  • Muntah berulang
  • Rasa haus meningkat
  • Tidak dapat makan serta minum seperti biasa.

Referensi
Halim-Mubin A, 2001. Panduan Praktis Ilmu Penyakit Dalam Diagnosis & Terapi. EGC: Jakarta.
Pulungsih SP. Penanganan Diare di rumah secara tepat dan optimal. Naskah lengkap seminar penanganan praktis masalah saluran cerna pada
anak. Disampaikan pada 23 Agustus 2001, Jakarta.